Persaingan Hadapi Revolusi Industri 4.0 di Perbatasan

133
Eki Darmawan,S.Sos.,M.I.P (Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang )

Tanjungpinang (Lentera) – Revolusi industri keempat atau industri 4.0 sudah merambah ke berbagai negara di dunia. Industri yang menghubungkan mesin melalui sistem internet ini juga mulai mengkhawatirkan bangsa ini. Kepulauan Riau merupakan daerah perbatasan yang berbatasan langsung dengan beberapa Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Cina dan Thailand. Sudah jelas Kepri merupakan daerah yang cukup rentan dalam menahan globalisasi di era revolusi industry 4.0 ini. Kemampuan SDM dan keahlian khusus dalam persaingan pasar kerja tentu menjadi tuntutan yang harus bisa diselesaikan Pemerintah Provinsi ini.

Kita tidak bisa membendung serta mencari cara bagaimana meminimalisir masalah pengangguran yang semakin meningkat saat ini. Sementara perguruan tinggi terus mencetak lulusan terdidik setiap tahun. Pertanyaannya untuk di daerah sendiri saja kita masih belum bisa membuktikan serapan tenaga kerja yang cukup baik, bagaimana kita harus bersaing dengan Negara-negara tetangga ?

Jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, kita masih di bawah. Tahun ini global competitiveness index Thailand di peringkat 32, Malaysia 23, dan Singapura ketiga. Beberapa penyebab Indonesia masih kalah ini karena lemahnya higher education and training, science and technology readiness, dan innovation and business sophistication. Inilah yang perlu diperbaiki supaya daya saing kita tidak rendah.

Salah satu tuntutan di era ini adalah peralihan kebutuhan tenaga kerja di industri. Misalnya pekerjaan mekanis atau yang membutuhkan ketrampilan rendah akan digantikan oleh otomatisasi mesin hingga kecerdasan buatan; sedangkan pekerjaan yang membuhkan kreativitas atau ketrampilan tinggi akan semakin banyak dan cuma bisa diisi oleh manusia.

Salah satu sasarannya adalah dengan membantu angkatan kerja muda untuk memiliki keahlian dan pemikiran yang bersifat global, yakni memiliki kemampuan dalam hal teknologi kemudian mampu untuk berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asing.

Pendidikan tinggi dan Pemerintah seharusnya sudah merubah arah pandang dalam membenahi masalah ini. Tergambar bahwa para pengangguran terdidik yang saat ini mulai didominasi oleh sarjana bukan seharusnya dipersiapkan jadi pekerja akan tetapi harus dibekali keahlian khusus. Pendidikan vokasi yang dilengkapi dengan sertifikasi kompetensi, adalah salah satu antisipasi yang harus disiapkan dari sekarang.

Para lulusan sarjana dan calon pekerja terdidik mau tidak mau harus meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi. Selain bersaingan dengan mesin berbasis teknologi canggih, bukan hanya sektor industri saja yang harus diperhatikan pemerintah, tapi juga dari aspek sosial ekonomi. Sebab industri 4.0 merupakan industri padat teknologi yang cenderung menyerap sedikit tenaga kerja. Sementara Indonesia membutuhkan industri yang mampu mendorong terciptanya banyak lapangan pekerjaan. Ada sekitar 630.000 sarjana pengangguran di Indonesia yang harus diselamatkan.

Kepulauan Riau adalah daerah terdepan yang semstinya siap dalam persaingan ini, kita juga harus beradu kompetensi dan keahlian tertentu dengan pekerja asing yang datang dari terbukanya pasar bebas. Perguruan tinggi sebagai lembaga pencetak sumber daya manusia yang unggul diharapkan dapat memberi kontribusi besar terhadap upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri sudah menyebutkan angkatan kerja provinsi Kepri pada Agustus 2017 sebanyak 966.091 orang. Sementara penduduk yang sudah bekerja sebanyak 896.931 orang. Artinya masih ada 69.160 orang lagi yang belum memiliki pekerjaan dan diantaranya adalah mereka yang memiliki ijazah sarjana. (ED)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here